Asdikamba atau adik simba adalah akronim kata tanya – apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana – yang dianggap sebagai dasar pengumpulan informasi. asdikamba merupakan formula untuk mendapatkan cerita lengkap tentang suatu subjek. Menurut prinsip asdikamba, suatu laporan dianggap lengkap bila telah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa yang terjadi? Siapa yang terlibat? Kapan itu terjadi? Di mana kejadian itu? Mengapa terjadi? A apa DI dimana K kapan SI siapa M mengapa BA bagaimana
GLOSARIUM Amanah (الأمانة) Kepercayaan dan tanggung jawab yang harus dijaga dan dilaksanakan dengan jujur. Dalam Islam, amanah adalah kewajiban moral untuk menjalankan tugas sesuai dengan perintah Allah dan tidak menyalahgunakan kepercayaan. Anti Korupsi (مناهضة الفساد) Segala upaya, sikap, dan kebijakan yang dilakukan untuk mencegah dan memberantas korupsi, yaitu penyalahgunaan kekuasaan atau jabatan demi keuntungan pribadi atau kelompok. Dalil (الدليل) Landasan atau bukti dalam syariat Islam yang diambil dari Al-Qur’an, Hadits, ijma’ (kesepakatan ulama), dan qiyas (analogi). Gratifikasi (الرشوة - Risywah) Pemberian berupa uang, hadiah, fasilitas, atau keuntungan lain yang diterima secara tidak sah oleh pejabat atau penyelenggara negara dan dapat mempengaruhi kebijakan atau keputusan. Hadits (الحديث) Kumpulan perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW yang menjadi sumber hukum dan pedoman umat Islam setelah Al-Qur’an. Integritas (النزاهة - Al-Nazahah) Konsistens...
الخشوع هو وسكون الجوارح مع حضور القلب مع استحضار معان ما يقرؤه Definis khusu’ adalah tenang, tentram anggota anggota tubuh beserta hadirnya hati. Artinya daripada tenang, tentram anggota anggota tubuh adalah tubuh tidak bergerak kecuali pada hal hal yang diperintahkan dan maksud dari pada hudurul qolbi atau hadir hati adalah : ان لا يتفكر إلا في معنى ما يقول من قراءة أو ذكر أو دعاء Yaitu tidak memikirkan kepada selain makna yang ia baca baik ketika baca al-Quran, dzikir atau ketika doa. Contohnya adalah ketika membaca doa iftitah : وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمآوَاتِ وَالأَرْضَ Kuhadapkan mukaku kepada Dzat yang menjadikan langit dan bumi. Yang dimaksud dengan ‘muka’ bukanlah muka dzahir yang sama arti dengan wajah yang secara fisik menghadap ke arah kiblat. Tetapi muka bathin yang menghadap ke Allah swt. Karena pada hakikatnya yang memiliki kemampuan melihat Allah dan mengenalnya bukanlah mata dzahir, tetapi mata bathin. Se...